Cara Menyusun Soal HOTS yang Tetap Mudah Dipahami
Pelajari cara menyusun Soal HOTS yang jelas, menantang, dan mudah dipahami pelajar dengan langkah praktis, contoh konteks, dan tips agar tidak menjebak.
Kalau kamu pernah merasa Soal HOTS itu menakutkan, kemungkinan masalahnya bukan pada tingkat berpikirnya, melainkan pada cara soalnya disusun. Soal yang baik itu seperti peta, menantang tetapi tetap menunjukkan arah. Kuncinya ada pada tujuan yang jelas, supaya kamu tahu kemampuan apa yang ingin dilatih, bukan sekadar membuat soal yang terlihat sulit.
Sebelum menulis, tentukan dulu targetnya, misalnya menganalisis sebab akibat, membandingkan dua gagasan, mengevaluasi keputusan, atau menciptakan solusi. Saat tujuan sudah tajam, kamu akan lebih mudah memilih konteks dan kata kerja yang pas. Ini juga membuat soalnya terasa adil karena kamu diuji pada kemampuan tertentu, bukan ditebak-tebak.
Pilih Konteks Yang Dekat Dengan Hidup Kamu
Soal yang mudah dipahami biasanya punya cerita atau situasi yang familiar. Kamu bisa memakai konteks sekolah, rumah, media sosial, lingkungan sekitar, atau hobi. Konteks yang dekat membuat otak cepat menangkap maksud soal, sehingga energi kamu dipakai untuk berpikir tingkat tinggi, bukan habis untuk memahami kalimatnya.
Misalnya, daripada langsung bertanya tentang konsep ekonomi secara abstrak, pakai situasi kantin sekolah dan pilihan membeli paket hemat. Atau untuk IPA, gunakan kasus sampah plastik di selokan dekat rumah. Dengan konteks nyata, Soal HOTS terasa hidup dan tidak seperti teka-teki yang menjebak.
Gunakan Kata Kerja Berpikir Tingkat Tinggi
Soal HOTS identik dengan kata kerja yang mendorong kamu mengolah informasi, bukan menghafal. Pilih kata kerja seperti menganalisis, menilai, membuktikan, menyimpulkan, merancang, atau memprediksi. Hindari terlalu banyak kata kerja yang hanya meminta menyebutkan, menuliskan, atau mengingat, kecuali sebagai pijakan awal.
Agar tetap jelas, tuliskan perintah secara langsung dan hemat kata. Kalimat pendek sering lebih kuat daripada kalimat panjang yang berputar-putar. Kalau butuh data atau teks, pastikan data itu benar-benar dipakai untuk berpikir, bukan hanya tempelan.
Susun Stimulus Yang Ringkas Tapi Kaya Makna
Stimulus itu bahan pemicu, bisa berupa paragraf pendek, tabel mini, kutipan, atau deskripsi masalah. Stimulus yang bagus tidak harus panjang, yang penting mengandung informasi cukup untuk dianalisis. Kamu juga perlu memastikan stimulus tidak bias dan tidak memberi jawaban secara terselubung.
Coba cek dengan pertanyaan sederhana jika stimulus dihapus, apakah soalnya masih bisa dijawab tanpa berpikir. Kalau iya, berarti stimulus belum berfungsi. Di sisi lain, kalau stimulus terlalu panjang, kamu akan capek duluan. Keseimbangan ini yang membuat Soal HOTS terasa menantang namun tetap ramah.
Pastikan Tidak Menjebak Dan Punya Kunci Yang Masuk Akal
Soal yang baik itu menguji, bukan mempermalukan. Jadi, hindari pilihan jawaban yang mirip karena salah ketik, kalimat yang ambigu, atau informasi yang kurang. Jika bentuknya pilihan ganda, pastikan pengecoh masuk akal dan masih terkait konsep, bukan asal dibuat aneh.
Kalau soal uraian, siapkan rubrik sederhana. Rubrik membantu penilaian jadi konsisten dan membuat kamu paham apa yang dinilai, misalnya ketepatan alasan, langkah berpikir, dan contoh pendukung. Dengan begitu, Soal HOTS terasa transparan dan memotivasi.
Uji Coba Dan Revisi Dengan Kacamata Pelajar
Langkah terakhir sering dilupakan, padahal paling menentukan. Coba baca soalnya seperti kamu yang sedang lelah sepulang sekolah. Apakah kalimatnya masih jelas. Apakah perintahnya tunggal, tidak bercabang. Apakah data yang diberikan cukup.
Mintalah teman untuk mencoba mengerjakan, lalu tanyakan bagian mana yang membingungkan. Dari situ kamu bisa memperbaiki diksi, memotong kalimat, atau mengganti konteks. Ketika kamu mau merevisi, kamu sedang belajar merancang Soal HOTS yang bukan hanya pintar, tapi juga bersahabat.
Menyusun soal HOTS itu seperti merancang tantangan level baru dalam permainan, harus seru, masuk akal, dan membuat pemain ingin mencoba lagi. Saat kamu memulai dari tujuan, memakai konteks dekat, menulis perintah yang jelas, lalu menguji coba, soal yang kamu buat akan terasa menantang sekaligus mudah dipahami. Dan yang paling penting, kamu tidak hanya membuat soal, kamu sedang melatih cara berpikir yang akan berguna di sekolah dan kehidupan nyata.